Skip to main content

AKKI Adakan Sambung Rasa Nasional di Rejang Lebong

Bengkulu
Acara pertemuan sambung rasa nasional yang digagas oleh Asosiasi Kerajaan dan Keraton se-Indonesia (AKKI).


Rejang Lebong - Kabupaten Rejang Lebong menjadi tempat pertemuan sambung rasa nasional yang digagas oleh Asosiasi Kerajaan dan Keraton se-Indonesia (AKKI). Pertemuan tersebut dibuka langsung oleh Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, Sabtu (31/3).

Acara tersebut mengusung tema diskusi 'Kemuliaan Desa dan Makrifat Adat Nusantara' yang dihelat di Gedung Badan Diklat Rejang Lebong dekat obyek wisata Danau Harun Bastari Kota Curup.

Rohidin Mersyah pada kesempatan itu berharap petemuan ini dapat menghasilkan gagasan ril yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan terbitnya ide inovasi pembangunan desa yang mampu mewujudkan pemerataan pembangunan.

“Masyarakat desa merupakan salah satu sasaran pembangunan dan pemerintahannya, mempunyai kewenangan melakukan inovasi pembangunan.

Jika persoaalan di desa-desa bisa terselesaikan, hampir bisa dikatakan selesai juga pesoalan di daerah. Maka, semangat nawacita membangun Indonesia dari pinggiran ini hendaknya mampu mengubah perspektif pembangunan, kemudian diimplementasikan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional," katanya.

Menurut Rohidin, inovasi pembangunan itu tentunya perlu disesuaikan dengan karateristik budaya dan adat masyarakat lokal. Tujuannya, pemanfaatan potensi dan proses pembangunan tak bertentangan dengan kearifan lokal ataupun menghilangkan budaya dan adat yang telah ada. Budaya dan adat juga merupakan potensi suatu daerah atau pun desa, yang perlu dijaga kelestariannya.

Sedangkan Bupati Ahmad Hijazi mengungkapkan, pelaksanaan kegiatan Sambung Rasa Nasional di Rejang Lebong juga menjadi sarana pengenalan adat budaya Bumi Pat Petulai. 'Rembug' nasional juga dijadikan semangat mewujudkan Indonesia sebagai pusat kemakmuran dunia.

"Indonesia pernah menjadi pusat perhatian dunia karena kemakmurannya, semoga ini juga bisa mengembalikan kejayaan Indonesia menjadi semakin maju lagi dan di mulai dari Rejang Lebong. Tentu saja gagasan dan pembangunan kita bersama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Hijazi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua AKKI, Lulu Gedhe Parma mengatakan pembangunan desa telah dirumuskan pada jaman Majapahit. Saat itu dikenal dengan nama deca, dan ada literatur Deca Wardana. Saat masa kerajaan, desa juga menjadi sasaran pemerataan pembangunan.

Menurut dia, kumpulan dari desa-desa menjadi daerah, kemudian daerah-daerah terkumpul menyatu menjadi negara. Kalau desa tidak makmur, berartikan negaranya tidak makmur. Lulu berharap pertemuan ini bisa menjadi rekomendasi usulan rumusan pemerintah, serta ada skenario masa depan.

Pertemuan dengan sejumlah tokoh adat dari berbagai daerah se-Indonesia di Rejang Lebong terbungkus nuansa adat. Seluruh peserta mengenakan pakaian adat, dan saat itu pakaian adat Bengkulu mendominasi. Tarian Kejei yang telah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda juga ditampilkan saat seremoni pembukaan. Penyambutan khas Rejang, pencak silat dan sekapur sirih, tampak sakral.

Kegiatan ini dihadiri para pejabat Pemprov, FKPD, Bupati Kepahiang Hidayat Sjahid, Wabup Seluma Suparto, Wabup Bengkulu Tengah, Septi Feriadi, juga para tokoh pemangku adat se-Provinsi Bengkulu. (Adv)

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Bengkulu

Dibaca 48 kali

Facebook comments